Spasi Iklan

­
Artikel

ISTIQOMAH (Bagian 2)

10 KIAT MERAIH KE-ISTIQAMAH-AN
Ada beberapa cara yang haruslah dilakukan oleh seorang hamba untuk bisa meraih keistiqamahan. Adalah Imam Ibnul-Qayyim –rahimahullah- telah menjelaskan bahwa ada enam perkara  yang bisa mewujudkan keistiqamahan, jika kurang satu saja dari yang enam ini maka akan keluar dari keistiqamahan baik keluar secara keseluruhan ataupun sebagian.
Beliau merincikan sebagai berikut, yaitu; amalan, ikhlas, ittiba', kesungguhan, tidak berlebihan serta tidak menyepelekan, dan dengan ilmu[1].
Mari kita perhatikan kiat-kita apa saja yang bisa dilakukan guna meraih keistiqamahan.
1       Tauhid (Ikhlas mengesakan Allah dalam ibadah).
Diantara makna istiqamah adalah ikhlas[2], dan Ikhlas akan menghantarkan seseorang kepada keistiqamahan dalam beramal, siapa saja yang kehilangan ikhlas dalam dirinya maka sungguh langkahnya akan terputus ditengah jalan. Karena syaitan memiliki misi yang sangat besar untuk memalingkan manusia dari jalan keistiqamahan, Allah menceritakan hal itu dalam firmanNya:
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (17)
Artinya:  iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukumku tersesat, sungguh aku akan (menghalang-halangi) mereka dari jalanMu yang lurus (jalan keistiqamahan), kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka dalam keadaan bersyukur. (Q.S Al A'raf: 16-17)
Allah juga berfirman:
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40) قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ (41)
Artinya: iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka". Allah berfirman: "Ini adalah jalan yang lurus (keistiqamahan), kewajiban Aku-lah (menjaganya). [Q.S Hijr: 39-41].
Maka tidak ada seorangpun yang bisa bertahan diatas jalan yang lurus ini (istiqamah) kecuali orang-orang yang ikhlas mentauhidkan Allah dalam beribadah, karena inilah yang telah Allah janjikan pada ayat diatas.

2       Ittiba' sunnah (mencontoh  tuntunan Rasulullah dalam beramal)
Yaitu dengan mencukupkan amalan yang bermuatan ibadah dengan apa yang telah dituntunkan oleh Rasulullah kepada para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in dan yang mengikutinya dengan baik hingga akhir zaman.
Rasulullah bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هذا مَا ليسَ مِنه فهو رَدٌّ
Artinya: Siapa saja yang mengada-ada sebuah perkara dalam agama yang tidak ada asalnya dari kami maka tertolak.
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا ليسَ عليهِ أَمْرنَا فهو رَدٌّ
Artinya: Siapa saja yang melakukan amalan yang bukan perkara kami ( perkara agama yang tidak ada tuntunan kami) maka tertolak[3].
Maka tiadalah bisa diraih keistiqamahan tersebut sementara amalannya saja tertolak.

3       Kesungguhan dalam beramal.
Ketahuilah bahwa untuk meraih keistiqamahan membutuhkan kesungguhan dalam beramal, untuk inilah Allah telah memerintahkan kita agar selalu tetap teguh beribadah kepadaNya hingga akhir hayat, Allah berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ (99)
Artinya: "dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu sebuah keyakinan".
Maksud "yakin" disini adalah sampai datang kematian[4].


4       Tidak berlebihan dalam amalan dan tidak meremehkannya.
Maksudnya adalah sedang-sedang saja, tidak berlebih-lebihan  dalam melakukan sebuah amalan (إِفْرَاطٌ) sehingga mendzalimi diri sendiri dan tidak pula berlebihan dalam meremehkan amalan (تفريط ) sehingga mendzalimi syari'at. Karena inilah bagian dari makna istiqamah yaitu I'tidal atau seimbang.
Yang pertama (tidak ifrath), Rasulullah bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: amalan yang paling dicintai Allah adalah yang  terus menerus meskipun sedikit. (H.R Bukhari & Muslim)
Imam Nawawiy –rahimahullah- memberikan catatan terhadap hadits yang mulia ini dalam perkataannya:
وَفِيهِ الحثُ على المداومَةِ على العَملِ، وأن قليلَه الدائمَ خيرٌ من كثيرٍ ينقطع، وإنما كان القلِيْلُ الدائمُ خيراً من الكثيرِ  المنقطع، لأن بدَوَامِ القليلِ تَدُومُ الطاعةُ والذكرُ والمُراقَبةُ والنيةُ والإخلاصُ والإقْبَالُ على الخَالق سبحانه وتعالى، ويُثْمِرُ القليلُ الدائمُ بحيث يزيد على الكثيرِ المنقطعِ أِضْعَافاً كثيرةُ
Pada hadits tersebut terdapat motivasi untuk selalu konsisten dalam sebuah amalan, karena amalan yang sedikit namun berkelanjutan itu lebih baik dari pada amalan yang banyak namun terputus. Karena amalan kecil yang berkesinambungan itu akan membuahkan konsistensi dalam ketaatan, dzikir, muraqabah, niat, ikhlas dan menghadap Allah [5], dan amalan kecil yang berkesinambungan itu buahnya akan berlipat-lipat jika dibanding dengan amalan yang banyak namun terputus.
Yang kedua (tidak tafrith), Rasulullah bersabda:
لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
Artinya: Sungguh janganlah pernah engkau remehkan sekecil apapun dari kebaikan, meski hanya menatap saudaramu dengan wajah yang berseri-seri. (H.R Muslim no.6857)
Karena sesungguhnya orang yang menganggap remeh sebuah amalan, dia akan meninggalkannya dan tak mungkin istiqamah diatasnya.

5       Tiada henti belajar ilmu agama.
Tidak dipungkiri bahwa ilmu bagaikan cahaya yang menerangi jalan keistiqamahan. Bahkan ilmu adalah  sebuah jalan keistiqamahan yang menghantarkan  tujuan akhir seorang hamba yaitu syurga.
Rasulullah :
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طريقا إلى اْلجَنَّةِ
Artinya: Siapa saja yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju syurga. (H.R Muslim, no. 2699)

Dan ilmu merupakan kunci dari seluruh kiat-kiat meraih keistiqamahan. Bagaimana bisa seorang hamba menjaga keistiqamahannya jika dia tidak mau mempelajari apakah istiqamah itu? hal-hal apa saja yang menghalangi hamba untuk istiqamah menjalankan agama? Semua itu haruslah diawali dengan mempelajarinya.


6       Berdo'a kepada Allah agar diberi keistiqamahan.
Tidak ada cara yang paling utama melainkan memohon kepada Allah agar menjaga keistiqamahan kita, karena Allah lah yang membolak-balikkan hati manusia kapan saja Dia kehendaki, sebagaimana sabda Rasulullah :
إِنَّ قُلُوبَ بَنِى آدَم كُلَّهَا بَيْنَ إصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحمَنِ كَقَلْبٍ وَاحدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثم قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلَّمَ:
Artinya: Sesungguhnya seluruh hati anak cucu adam seperti satu hati yang berada diantara dua jari dari jemari Allah yang akan Allah bolak balikkan kapan saja Dia kehendaki, kemudian Rasulullah bersabda:
"اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ"
"Ya Allah yang maha memalingkan hati kami, palingkanlah hati kami diatas ketaatan kepadaMu". (H.R Muslim no. 2654)
Allah mengajarkan do'a yang paling agung yang selalu kita baca disetiap rakaat shalat:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)
Artinya: "tunjukilah kami kepada jalan yang lurus". (Q.S Al Fatihah:6)
Ketahuilah bahwa do'a adalah inti dalam setiap amalan. Rasulullah bersabda:
اَلدُّعَاءُ هو الْعِبَادَةِ
Artinya: Do'a adalah ibadah[6].
Dialah Alhasan Albasriy jika membaca ayat إِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اْستَقَامُوا) ), beliau berdo'a:
 اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا فَارْزُقْنَا الْاِسْتِقَامَةَ
Artinya: Ya Allah... Engkau adalah Rabb kami, maka berilah kami rezeki berupa keistiqamahan[7].
Didalam do'a terdapat pengakuan seorang hamba akan kelemahan dan kebutuhannya kepada Rabbnya. Maka mohonlah selalu kepadaNya hidayah dan keistiqamahan.

7       Memperbanyak bacaan dan tadabbur Al Qur'an.
Secara umum Al Qur'an adalah penuntun seorang hamba kepada jalan keistiqamahan, Allah berfirman:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ ...(9)
Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling Lurus ... (Q.S. Al Isra':9)
Maka siapa saja yang membacanya, mentadabburinya atau berusaha menghafalnya hingga hari-harinya terhiasi dengan Al Qur'an, maka dia akan berjalan diatas keistiqamahan. Dalilnya adalah Firman Allah :
إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (27) لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ (28)
Artinya: Sungguh Al Qur'an itu tiada lain adalah peringatan bagi semesta alam. (yaitu) bagi siapa saja di antara kamu yang mau menempuh jalan keistiqamahan (lurus). (Q.S. At Takwir:27-28)
Bacalah al Qur'an setiap waktu, pasti kita akan rasakan ketenangan dan kekuatan untuk selalu beristiqamah.

8       Berteman dengan orang yang shalih.
Bertemanlah dengan orang shalih yang bisa membantu kita untuk istiqamah. Ketahuilah sesungguhnya teman yang baik adalah teman yang mengingatkan kita terhadap akhirat, dan sesungguhnya teman yang buruk seperti pelaku maksiat dan semisalnya akan melalaikan kita dari akhirat, sehingga merusak keistiqamahan agama kita.
Mari kita perhatikan firman Allah ;
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (112)
Artinya: Maka istiqamahlah engkau, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta engkau dan janganlah melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Hud: 112)
Setelah Allah memerintah kita untuk istiqamah sebagaimana ayat diatas, pada ayat berikutnya Allah melarang kita dari sesuatu yang bisa menghilangkan keistiqamahan tersebut yaitu bergaul dengan orang-orang yang dzalim, Allah berfirman:
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (113(
Artinya: dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim* yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. (Q.S Hud:113)
* Cenderung kepada orang yang zalim Maksudnya menggauli mereka serta meridhai perbuatannya. akan tetapi jika bergaul dengan mereka tanpa meridhai perbuatannya dengan maksud agar mereka kembali kepada kebenaran atau memelihara diri, Maka dibolehkan[8].
Disini Allah menggunakan kata kerja larangan (فعل النهي) dari kata ركن يركن   yang artinya: bersebelahan[9], dengan makna janganlah engkau berdampingan atau bergaul dekat dengan mereka. Karena pergaulan sangatlah berpengaruh  kepada keistiqamahan agama seseorang.
Hingga Rasulullah memberikan sebuah permisalan antara teman yang baik dan teman yang buruk, beliau bersabda:
وَ مثلُ الجَلِيسِ الصالحِ كمثلِ صاحبِ المِسْكِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ منه شيءٌ أصابَك مِنْ رِيْحِه و مثلُ جليسِ السُّوءِ كمثلِ صاحِبِ الْكِيْرِ إِنْ لمْ يصبْك من سَوَادِه أصابَك من دُخَانِهُ.
Artinya: Dan permisalan teman yang baik itu seperti berteman dengan pemilik parfum, engkau akan mendapatkan wanginya meskipun kau tak mendapatkan parfumnya. Dan permisalan teman yang buruk itu seperti berkawan dengan penempa besi, meski tak terkena hitam (angusnya) maka kau akan terkena asapnya[10].
Rasulullah juga bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ
Artinya: Seseorang itu berada diatas agama sahabatnya (khalil), maka hendaklah kalian lihat siapa yang bersahabat dengan kalian. H.R Ahmad no. 8417 , Al Baihaqiy no. 9436[11].
Makna "khalil" secara bahasa adalah sahabat dekat yang penuh kasih sayang, yang seseorang sangatlah membutuhkannya[12].
Sungguh betapa banyak orang yang tidak mampu berjalan diatas keistiqamahan hanya karena disebabkan pergaulan dengan kawan yang buruk. Maka hindarilah bergaul dengan mereka, karena tidak ada yang menjamin  hati kita untuk teguh dari pengaruh keburukan syaitan dari kalangan jin dan manusia.

9       Memperbanyak dzikir (menyebut dan mengingat Allah).
Ketahuilah bahwa diantara cara syaitan dalam memalingkan hamba dari keistiqamahan adalah dengan membuat kita lupa dari dzikir. Allah telah mengabarkan kepada kita dalam firmanNya:
اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ (19)
Artinya: syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka Itulah golongan syaitan. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan syaitan Itulah golongan yang merugi.(Q.S Almujadilah:19)

Berhati-hatilah kita, untuk selalu berdzikir kepada Allah karena sesungguh orang yang lupa untuk berdzikir kepada Allah adalah salah satu tanda telah dikuasai oleh syaithan. Dan ketahuilah bahwa seluruh maksiat dan keburukan yang kita lakukan tidak lain karena kita sudah dikuasai syaitan dan lupa mengingat Allah.

Faidah:
Dan berdzikir disini bisa dilakukan dengan hati maupun dengan lisan[13], dan sebaik baik dzikir yaitu dilakukan dengan hati dan lisan secara bersamaan. Namun jika tidak memungkinkan untuk menggabungkan antara dzikir lisan dan hati secara bersamaan maka dzikir dengan hati lebih utama dari pada lisan. Dan janganlah kita enggan berdzikir  dengan lisan dan hati hanya karena takut disangka riya. Tetaplah berdzikir dengan mengharap wajah Allah [14].

10  Menjaga lisan.
Lisan merupakan penerjemah yang mengungkapkan keadaan hati. Ketahuilah jika lisan istiqamah (lurus) maka itu pertanda bahwa hati nya istiqamah atau lurus. Rasulullah :
إذا أصبح ابن آدم فإن الأعضاء كلها تكفر اللسان, فتقول: اتق الله فينا, فإنما نحن بك, فإن استقمت استقمنا وإن اعوججت اعوججنا.
Artinya: Jika anak cucu Adam memulai paginya, seluruh anggota badan akan mengingkari lidah seraya berkata: Wahai lidah bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya kami bersamamu. Jika engkau istiqamah atau lurus maka kamipun istiqamah, dan jika engkau menyimpang maka kamipun menyimpang. (H.R Tirmidziy no. 2407)
Dan telah diriwayatkan dalam hadits bahwasanya Rasulullah bersabda:
قل آمنت بالله ثم استقم, قلت: فما أتقي ؟ فأومأ إلى لسانه
Artinya: Katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah! Akupun berkata: lalu apa yang harus aku jaga? Maka beliau mengisyaratkan kepada lisannya. (H.R Ahmad)
Faidah:
Untuk menjaga keistiqamahan haruslah dengan menjaga lisan. Rasulullah bersabda:
لا يستقيم إيمان عبد حتى يستقيم قلبه, ولا يستقيم قلبه حتى يستقيم لسانه
Artinya: iman seorang hamba tidak akan istiqamah (lurus) sampai istiqamah hatinya, dan hatinya tidak akan istiqamah sampai lisannya istiqamah. (H.R Ahmad)
Allahu A'lam, semoga bermanfaat dan kita selalu diatas keistiqamahan, wa sallallahu 'ala nabiyina Muhammadin wa alihi wa shahbihi ajma'in walhamdulillahi rabbil'alamin.
BERSAMBUNG (bagian akhir Penghalang keistiqamahan)




[1] Lihat Madarijussalikin, Ibnul Qayyim, Hal. 107 jilid 2, Penerbit Darulkitab Al arabiy, Beirut Cetakan kedua 1393 H – 1973 M, tahqiq Muhammad Hamid alfaqiy.
[2] Lihat Tafsir AlQur'anil'adzim Ibnu Katsir, hal. 178 Jilid keempat Penerbit Daruthayyibah - Riyadh, Cetakan pertama 1430H / 2009 M, tahqiq Samiy bin Muhammad Assalaamah.
[3] Hadits riwayat Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718.
[4] Lihat tafsir Al Qur'an Al 'Adzim Ibnu Katsir, Hal. 553 jilid 3, Penerbit Daruthayyibah Riyadh-KSA, Cetakan pertama 1430 M-2009 M. tahqiq Samiy bin Muhammad Assalamah.
[5] Syarah shahih muslim, Imam Nawawiy, bab keutamaan amalan yang berkelanjutan, hal.331 jilid 3, Penerbit darulhadits Kairo, cetakan pertama 1415 H – 1993 H, tahqiq 'Isham ashababitiy, Hazim Muhammad dan 'Ammad 'Amir.

[6] Shahih ibnu majah no. 3818, shahih abu dawud no. 1329 oleh Syaikh Albaniy.
[7] Lihat Jamiul ulumu walhikam, Ibnu Rajab hal. 384 Penerbit Dar ibnul jauziy KSA, cetakan ke 9 tahun 1431 H, Tahqiq Thariq bin awadallah bin Muhammad.
[8] Terjemahan makna alQur'an, Mujamma' Al Malik Fahd Lithiba'at Al Mushaf, hal. 344.
[9] Lihat Mufradat alfadz alQur'an, Ar Ragib Al Asfahaniy, hal.415 Penerbit Darulqalam, Dimasyqus.
[10] Lihat Shahih aljami' ashaghir, Syaikh Albani, hal. 1016 jilid 2, Penerbit Almaktab Al Islamiy, Beirut Cetakan ketiga 1408 H/1988 M.
[11] Musna Imam Ahmad Hal. 142 jilid 14 Penerbit Muassasah Arrisalah cetakan kedua 1420 H/1999 M, Tahqiq Syuaib arnuth dll.
Syuabul iman, Imam Albaihaqiy hal. 55 jilid 7 Penerbit Darulkutub al ilmiyah Beirut. Cetakan pertama 1410 H / 1989 M. Tahqiq Muhammad Assaid basiyuniy Zaglul.
[12] Lihat Mukhtarushihah, Muhammad bin Abi bakr bin Abdilqadir Ar-Raziy, hal. 196 jilid 1, Penerbit Maktabah Lubnan Nasyirun – Beirut, cetakan pertama 1410 H / 1995 M, tahqiq Mahmud Khatir.
[13] Lihat Tafsir fathulqadir Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy Syaukani, hal.253 jilid 4, Penerbit Maktabah Arrusydi Riyadh – KSA, cetakan keenam 1430 H/2009 M.
[14] Lihat Shahih Adzkar An Nawawiy, Syaikh Salim bin 'Id Alhilaliy, hal. 17 Penerbit Darulmanhaj Kairo, Cetakan pertama 1426H/2004M.
  • Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: ISTIQOMAH (Bagian 2) Rating: 5 Reviewed By: http://www.mahad-alanshar.or.id/