Spasi Iklan

­
Artikel

Sayang Anak ??? Jauhkan Mereka dari HP

Sayang Anak ??? Jauhkan Mereka dari HP



Di masa perkembangan teknologi yang super cepat saat ini, Para Orang tua sepertinya Sudah tidak ambil pusing lagi ketika melihat anaknya menangis atau rewel, cukup diberikan HP/Smartphohe/Tablet habis masalah, rewelnya sang anak pun reda.

Anak-anak dengan mudah diberikan HP tanpa peduli Dampak negatifnya di kemudian hari, dari sisi Kecerdasan Otak, Emosional, Jaringan Saraf, Sosial, Psikologis dan sejumlah dampak Negatif yang timbul ketika mereka memainkan gadget ini dalam genggaman mereka dengan fitur yang sangat menarik.

Namun, untuk mengetahui hakikat sesuatu kita mesti bercermin kepada ahlinya, sebut saja Steve Jobs, Saat menjabat sebagai bos Apple, tentunya banyak orang yang memperkirakan kehidupan keluarga Steve Jobs berkaitan erat dengan produk-produk Apple, seperti iPad dan iPhone. Namun kenyataannya berbeda, Steve Jobs justru melarang anak-anaknya bersentuhan dengan produk-produk tersebut.

“Kami membatasi penggunaan teknologi untuk anak-anak di rumah,” ungkap Steve Jobs di tahun 2010 lalu, New York Times (11/09).

Cukup mengejutkan memang, tetapi mantan CEO Apple tersebut benar-benar menjauhkan buah hatinya dari Gadget canggih tersebut. Alasan utamanya pun sederhana, Steve Jobs khawatir bila anak-anaknya akan menerima dampak negatif dari gadget-gadget itu, dan dia tidak ingin kehilangan waktu bermain bersama mereka. ketika anak sudah asyik bermain gadget dia khawatir san anak tidak lagi peduli dengan lingkungan dan sesama.

Jangan bayangkan bahwa rumah Steve Jobs akan dipenuhi dengan Gadget-gadget canggih buatan Apple. Tetapi sebaliknya bahkan di kamar anak steve jobs sendiri tak ditemukan perangkat elektronik canggih yang bisa digunakan oleh anak-anaknya.

Dia juga khawatir anak-anaknya kehilangan masa kecil mereka. Bahkan Tak hanya Jobs yang membatasi penggunaan gadget pada anak-anak nya. Beberapa insinyur dan eksekutif dari Apple, eBay, Google, Hewlett-Packard dan Yahoo pun mengikuti jobs dengan mengirim anak-anak mereka ke sekolah dasar Waldorf di Los Altos, California., Di mana di sekolahan tersebut anda tidak akan menemukan satu komputer atau layar apapun disana.

Mereka para eksekutif perusahaan internet dan teknologi terbesar itu memilik kekuatiran dan berpikir bahwa teknologi dapat mengganggu kreativitas dan perkembangan otak anak, menurut mereka seharusnya anak-anak diusia itu sedang getol-getolnya belajar melalui praktek langsung dengan tangan, berinteraksi sosial antar manusia-ke-manusia. Siswa di sekolah waldorf ini juga mendapatkan pelajaran matematika, menggambar dan keterampilan pemecahan masalah hingga kursus merajut.

Sifat ‘kolot’ dari orang-orang di balik lahirnya era kejayaan smartphone tersebut adalah sebuah bentuk perhatian terhadap efek jangka panjang dari penggunaan perangkat mobile bagi anak-anak, terutama produk-produk dengan layar touchscreen. Karena Gadget dengan layar touchscreen yang memberikan kemudahan dan menarik bagi anak-anak memang dituding dapat menyebabkan kecanduan.

Tampaknya, kebijakan Steve Jobs untuk membatasi penggunaan gadget pada anak-anaknya terbukti benar, pria yang meninggal pada tahun 2011 itu memberikan sebuah pelajaran berharga terakhir bagi semua orang tua.

Berdasarkan penelitian dari Universitas California, anak-anak yang tidak bersentuhan dengan gadget hari mampu berinteraksi dan memiliki ‘social skill’ lebih baik. Anak-anak yang terlalu sering bermain dengan gadget diklaim sering kehilangan kemampuan dasar dalam berkomunikasi, yaitu memahami ekspresi atau gestur yang menandai perubahan perasaan seseorang. Padahal kemampuan tersebut adalah salah satu modal penting saat interaksi langsung.

Tidak bisa dipungkiri bila HP/Smartphone/Tablet dapat membuat penggunanya terus online dan terkoneksi dengan dunia maya. Sayangnya, internet tidak hanya berisi hal-hal yang positif saja. Berbagai konten-konten yang dianggap berbahaya bagi perkembangan mental anak juga tersebar dengan bebas di dalamnya.

Belum lagi Fasilitas Game Online yang menyita perhatian mereka, menghabiskan banyak waktu telah membuat mereka kehilangan pendidikan utama yaitu untuk dekat dengan Orang tuanya selaku Sekolah Pertama setiap Anak Manusia.

Game Online mendidik mereka menjadi seorang yang Kasar, Keras, Suka Memukul, Egois, Tidak Mau Mengalah dan sejumlah sikap buruk lainnya, Maka tidak heran ketika Orang tua menyuruh sang anak mengambilkan sesuatu, yang keluar dari mulut mereka adalah “Ahh”, “Ckkk”, bahkan mereka berani membentak karena alasan “Tanggung” “Udah Mau menang” dan alasan sejenisnya.

Dunia anak-anak, terutama yang berumur di bawah 12 tahun adalah kelompok yang paling rentan kecanduan terhadap gadget. Akibat rasa ingin tahu anak yang tinggi dan akses terhadap teknologi dan internet yang tersedia dengan mudah, anak-anak berpotensi mendapat paparan konten-konten berbahaya seperti pornografi atau bahkan melakukan aktivitas negatif seperti mem-bully orang via jejaring sosial.

Namun hal itu baru dari sisi psikologis yang mendasar, kalau kita ingin lebih tau mari simak beberapa hasil penelitian para Ahli di bidang ini, diantaranya:

Radiasi terhadap Otak
Radiasi ponsel telah lama dikaitkan dengan berbagai gangguan fungsi otak atau susunan saraf pusat. Gangguan ke otak tersebut meliputi mulai dari tumor hingga insomnia. Meskipun temuan studi masih bertentangan, bukti mulai menunjukkan adanya peningkatan risiko tumor otak di kalangan pengguna ponsel.

Para peneliti di National Radiology Protection Board, Inggris, mengatakan, radiasi elektromagnetik yang dihasilkan dari telepon gengam dapat merusak DNA dan mengakibatkan tumor otak. Orangtua seharusnya tidak memberikan telepon genggam pada anak-anak yang berusia di bawah 12 tahun sebagai tindakan pencegahan gangguan radiasi dari alat-alat tersebut. “Ketika menggunakan telepon genggam, 70-80 persen energi radiasi yang dipancarkan dari antena telepon itu diserap oleh kepala. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan, potensi dampak negatif dari penyerapan radiasi jangka panjang yang dipancarkan oleh telepon genggam. Sayangnya, hanya sedikit penelitian yang memfokuskan pada anak-anak,” ungkap Prof Henry Lai dari University of Washington, AS, seperti dikutip web MD Health.

Efek radiasi pada anak-anak sangat mengkhawatirkan karena otak yang masih berkembang sangat mungkin terkena radiasi. Tumor otak biasanya berkembang selama 30 sampai 40 tahun. Anak-anak yang menggunakan telepon genggam sejak remaja akan mempunyai periode waktu yang lebih panjang sebelum terlihat dampaknya. Seseorang tidak tahu apakah anak-anak lebih mudah terkena radiasi, sebaiknya menggunakan headset guna menjauhkan antena dari kepala.

Para ahli dari Karolinska Institute di Swedia dan Wayne State University di Amerika Serikat yang melakukan riset tentang radiasi ini dengan dukungan dana dari Mobile Manufacturers Forum.  Para ahli melibatkan sebanyak 35 pria dan 36 wanita berusia 18 hingga 45 sebagai partisipan dalam penelitian.  Selama riset, beberapa partisipan dikondisikan untuk mendapatkan efek radiasi yang setara dengan jumlah yang diterima ketika seseorang menggunakan ponsel.  Beberapa partisipan lain juga harus menjalani kondisi serupa, namun tanpa diberi efek radiasi.  Setelah simulasi tersebut terungkap bahwa partisipan yang diberikan efek radiasi membutuhkan waktu yang lebih lama untuk masuk ke tahap pertama dari beberapa tingkatan tidur nyenyak (deep sleep). 

Partisipan ini juga menghabiskan waktu sebentar saja pada tahap tidur paling dalam. “Riset mengindikasikan bahwa dengan pemberian efek radiasi di laboratorium menggunakan sinyal wireless 884 MHz  penting artinya komponen tidur untuk dapat memulihkan diri dari pengaruh buruk akibat pemakaian sehari-hari,” ungkap peneliti dalam kesimpulannya.  Salah satu peneliti, Profesor Bengt Arnetz, mengatakan “Riset ini mengindikasikan dengan kuat bahwa penggunaan ponsel berhubungan dengan perubahan khusus pada bagian otak yang berfungsi mengaktifkan dan mengkoordinasikan sitem stres. Teori lainnya yang muncul adalah adalah radiasi dapat mengganggu produksi  hormon melatonin, yang berfungsi mengatur ritme tubuh secara internal. Dari riset ini pun terungkap bahwa setengah dari total partisipan mengalami gangguan yang disebut elektrosensitif.  Mereka mengalami beberapa gejala seperti sakit kepala, gangguan fungsi kognitif akibat penggunaan ponsel. Bukti-bukti sekarang semakin menguatkan bahwa kita seharusnya menangani masalah ini dengan cara yang sifatnya mencegah.

Sebuah riset selama enam tahun yang dilakukan UK Mobile Telecommunications dan Health Research Programme (MTHRP) di Inggris menyimpulkan bahwa penggunaan ponsel memang tidak menimbulkan  risiko jangka pendek pada otak. Namun begitu, para peneliti mengatakan mereka tidak mengesampingkan adanya kemungkinan risiko jangka panjang  yang dapat menimbulkan kanker.

Untuk itu, sudah seharusnya Orang tua cerdas dalam memberikan mainan kepada buah hatinya, HP bukanlah barang mainan anak-anak, mereka lebih membutuhkan sentuhan klasik terhadap sebuah benda yang nyata untuk mengasah sensor motorik, lagipula rasanya tidak ada kebutuhan yang nyata buat si anak untuk menggunakan HP/Smartphone/Tablet.

Mari sayangi Generasi muda kita dengan menjauhkan mereka dari Gadget sebelum penyesalan menghampiri kita, jangan bunuh kreatifitas mereka, biarkanlah Otak mereka berkembang dengan Normal, Berikan mereka pendidikan Primer dari Kedua Orang Tua sebagai sekolah pertama mereka.

Oleh: Hafzan El Hadi, S.Kom, M.Kom
Dosen Sistem Informasi dan Teknik Informatika,
Nusa Mandiri – Bina Sarana Informatika (BSI) Jakarta

  • Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Sayang Anak ??? Jauhkan Mereka dari HP Rating: 5 Reviewed By: http://www.mahad-alanshar.or.id/